Wedang Uwuh dan Konsultan IT MLM – Sistem MLM

Tidak ada komentar 360 views

Wedang Uwuh dan Konsultan IT MLM – Sistem MLM

Pagi Ini Ngawal pakbeb  dulu, meeting dadakan last minutes kejar-kejaran waktu ituh sesuatuh…
Bismillah….

Dan Kemudian Touchdown kota yg lagi hot sama berita patung “nude” nya..
Lanjut meeting. Semoga Allah ridho yah..Jiayo mypakbeb ????????Maaf bubeb buta dunia IT, dunia programer, making system, dunia persilatanmu. Ngertinya dunia perkiddosan. (Konsultan IT MLM – Sistem MLM)

Kemudian besok lanjut lagi, menuju jawa tengah.
Semarang – Solo beberapa hari dan balik lagi ke kota asal.

Oh iya , ketika di bandara solo dan lihat ada jual Wedang Uwuh “Naik Kelas” dalam arti wedang uwuh dalam kemasan, hihihi.

Kemasan isi 5 dan harganya Rp 50.000.
Silahkan hitung berapa profitnya? ada ide bisnis jual wedang uwuh? monggo… manfaatnya sangat banyak, dan bagi turis bule, wedang uwuh semacam minuman tradisional warisan dan sangat bisa loh dijual dengan ekslusif .

Langsung ingat ada artikel dari Cak Nun tentang wedang uwuh, dan mungkin ini ide yang sudah terealisasi, he he he.. Wedang uwuh Cafe.

 

Ini penampakan wedang uwuh yang saya coba beli (ada 5 macam)

Oh iya, ini artikel wedang uwuh dari CAk Nun yang saya ingat dan bermakna dalam banget, simak deh, klik di bawah ini. Judulnya Trash Drink Dan Iblis Penyet.

“Bahkan dari Wedang Uwuh kita bisa melacak perjalanan sejarah kehidupan manusia sampai ke penciptaan syariat alam semesta oleh Tuhan sejak awal penciptaan dulu”, Beruk menyambung.

Sebenarnya yang tampak paling mletik adalah Pèncèng. Beruk agak lebih pendiam. Tapi ternyata sebenarnya sifat agak pendiam itu menandakan dia orang yang lebih mendalam. Lebih kontemplatif. Lebih cenderung merenung sehingga kurang ekspresif seperti Pèncèng. Kalau Gendon karakternya di antara keduanya, cuma dia cenderung lebih bisa mempimpin dibanding dua lainnya.

“Misalnya bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan sampah. Semua yang terbuang dan terpendam oleh Tuhan dijadikan bahan untuk minyak, batu mulia, akik, serta banyak bahan-bahan tambang lainnya. Semua dibikin Tuhan dalam pola Dauriyah. Daur ulang. Tidak ada yang mubadzir.”

Anak-anak saya ini tidak punya latar belakang pendidikan santri, tapi ternyata pencari ilmu. Bukan pembelajar resmi dan tidak punya surat atau sertifikat pencapaian tingkat Sekolah, tetapi mereka pembelajar plat kuning. Tidak punya ijazah plat merah. Tidak tampak pinter ngaji atau fasih membaca Kitab Suci, tapi ternyata “penggali intan” juga.

Tuhan menantang manusia dengan retorika yang sangat halus: “Katakanlah, wahai Tuhan kami, sungguh tak sia-sia Engkau menciptakan semua ini”.

Itu firman Tuhan, tapi bukan untuk diucapkan oleh Tuhan, melainkan untuk dinyatakan oleh manusia, Tuhan cuma memerintah “katakanlah”. Kalau manusia menyatakan “sungguh tak sia-sia Engkau menciptakan semua ini”, kan harus ada asal-usulnya. Atas dasar apa pernyataan itu diucapkan? Apakah manusia mengetahui, mengalami, dan menghayati sesuatu, sehingga menemukan kesadaran bahwa ini semua tidak sia-sia.

Jadi firman itu sebenarnya merupakan perintah halus agar manusia meneliti kehidupan, mengamati dirinya, alam semesta, dan seluruh pengalaman hidup manusia. Di tengah proses penelitian itu, manusia terhenyak: “Edan, memang apa saja dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia…”

Sama dengan manusia mengucapkan “Allahu Akbar”: ada apa kok meneriakkan kata-kata itu. Mengalami apa kok manusia mengucapkan “Alhamdulillah”, “Subhanallah”, “Astaghfirullah”, dan kalimat-kalimat indah lainnya.

Dengan demikian uwuh-pun tidak sia-sia. Tidak batil. Fungsi dan manfaatnya tidak batil. Beruk melanjutkan uraiannya:

“Maka Wedang Uwuh di warung-warung itu sekurang-kurangnya memuat dua nilai. Pertama, kesadaran tentang siklus atau daur ciptaan Tuhan. Kedua…. Ini yang utama…”

“Apa itu? “, saya mengejar.

“Manusia Yogya atau Jawa melakukan revolusi kreativitas kuliner yang luar biasa. Bayangkan konsumen disuruh minum uwuh. Padahal uwuh adalah sampah. Dan semua merasa nikmat. Padahal agar orang mau minum sesuatu, urusannya tidak hanya menyangkut bahan atau zat cairan yang diminumnya. Tapi juga estetikanya, ‘roso’nya. Meskipun ada minuman sehat, tapi kalau di mata tampak menjijikkan, belum tentu orang mau minum. Atau kalau namanya mengganggu konsep pikirannya, orang belum tentu mengkonsumsinya. Memang yang disuguhkan bukan benar-benar sampah, tetapi cobalah simulasi: kalau kita bikin warung di Amerika atau Eropa, mungkinkah kita berjualan Trash Drink….Padahal rakyat Indonesia punya rondo kemul, kontol kambing, bol cino, pempek rudal, oseng-oseng mercon, rawon setan – meskipun belum ada iblis penyet….”

Nah… menarik juga kan artikel wedang uwuh dari Cak nun.
Semoga artikel ini bermanfaat, So Share Yuk !

 

 

 

 

 

 

 

author
Penulis: 

    Tinggalkan pesan "Wedang Uwuh dan Konsultan IT MLM – Sistem MLM"